Self Talk, Keputusan, dan Sebuah Awal untuk Memulai.


Aku masih ingat, jauh sebelum aku meng-iya-kan ajakan kolaborasi untuk menjadi illustrator Bicara Cinta, Veronica, yang sering kupanggil Pero – sahabat jauhku sekaligus patnerku dalam project Bicara Cinta pernah mengatakan,
“Alaya, someday kita bikin karya kolaborasi yuk. Alaya yang gambar, Pero yang nulis.” 
“Alaya, Pero pengen deh kita bisa ketemuan karena bikin karya bareng” 
“Alaya, Pero suka sama gambaran-gambaran Alaya, pokoknya Pero mau Alaya yang jadi patner Pero, Pero gamau yang lain.” 

Waktu itu, tiap kali dia menyampaikan keinginannya untuk membuat karya kolaborasi, aku cuman bilang “iya, kapan-kapan ya.” Dan percayalah, ketika aku bilang ‘kapan-kapan’ itu artinya aku juga tidak tau kapan wkwkwk. 

Sebenarnya saran untuk menjadi illustrator tidak hanya datang sekali dua kali. Seorang seniorku di kampus pernah menyarankan supaya aku menjadi illustrator di majalah, dan berakhir dengan jawaban “Iya, mungkin kapan-kapan, aku belum siap.” Pernah juga Vero mengabariku ada sebuah lowongan untuk illustator di suatu majalah remaja yang cukup terkenal, dan jawabanku pun juga berakhir sama, “Aku belum siap. Mungkin lain kali.” 

Pada suatu pertengahan Oktober 2015, Vero mengirim whatsapp 
“Alaya, Pero baru liat nih, Penerbit BIP lagi buka lowongan naskah genre bla, bla, bla, deadline nya akhir Oktober, ikutan yuk.” 

Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana, aku bisa merasakan antusiasme yang luar biasa dari Vero, sedangkan aku masih saja ragu-ragu. Dengan setumpuk alasan : deadline nya terlalu mepet, Oktober aku ada UTS. 

Malamnya, aku memikirkan tawaran kolaborasi Vero, dan terjadilah self-talk. Aku bertanya jawab dengan diriku sendiri. 

  • Kenapa aku nggak berani nerima tawaran untuk jadi illustrator?
    Karena aku belum berpengalaman, nggambar juga cuma hobi. Jadi kayaknya belum siap deh
  • Lalu kapan siapnya?
    Saat menunggu “siap”, yakinlah tidak pernah ada waktu yang tepat bagi orang yang selalu menunggu untuk “siap”. Itu hanyalah alasan yang kamu buat sendiri untuk menghindar.
  • Aku takut mengecewakan.
    Kamu bahkan belum mencoba. Dari mana kamu tau kalau kamu akan mengecewakan? 
  • Menjadi illustrator majalah ternama, bahkan kolaborasi dengan Vero itu tidak gampang, Vero itu kompeten di bidang menulis, sudah membuat novel-novel, dan karyanya luar biasa. Aku tidak ingin karena gambarku tidak memadahi, projectnya jadi gagal.
    Lah Vero aja percaya sama kamu, tapi kamu tidak percaya dengan dirimu sendiri -_- Kamu nggak akan pernah tau kemampuanmu kalau tidak pernah mencoba.
  • Bukan gitu... Semua orang sukses memulainya dari nol. Mencoba sesuatu yang baru- jatuh bangun- hingga sukses. Kamu tidak akan pernah tahu kapan awal yang baru itu benar-benar datang. Bisa saja saat kamu memilih menyerah, sebenarnya itu adalah jalan yang akan membawamu pada kesuksesan. Bayangkan betapa menyesalnya kamu kalau kamu tahu kamu baru saja melewatkan hal besar dalam hidupmu. 

Aku memejamkan mata, dan aku memutuskan untuk mencoba menjadi illustrator, melawan semua keragu-raguan dan setumpuk alasan-alasan pengecut. Aku tahu untuk pertama kalinya, it will not be easy, but it’s worth to try

Aku mengambil handphone ku dan mengetik “Pero, kalau akhir Oktober kayaknya nggak nutut soalnya ini udah pertengahan Oktober. Gimana kalau kita buatnya diluar lowongan itu. Jadi kita tetep ngirimin karya kita, tapi nggak Oktober.” Ku klik “send”. Itulah awal aku mencoba hal baru sebagai illustrator Bicara Cinta. 

Dan, akhirnya kamu tahu, Bicara Cinta akhirnya lahir ...  

Share this:

, , , ,

WHAT DO YOU THINK?

0 comments:

Post a Comment

Large Grey Polka Dot Pointer